Wednesday, November 27, 2013

Indonesia 2020

 
Pernahkah membayangkan, 7 tahun dari hari ini, seperti apa kita nanti? Seperti apa Indonesia nanti? Saya membayangkan kondisi Indonesia yang semakin baik. Tidak hanya pemerintahan yang baik, tapi juga semua aspek. Ekonomi, pendidikan, transportasi, pangan, bahkan mental budaya bangsa kita pun menjadi lebih baik. Dan tentunya saya menjadi manusia yang jauh lebih baik kondisinya dari hari ini. Lebih sehat, lebih kaya, lebih beriman dan lebih bermanfaat.
 
Ya itu adalah bayangan. Mungkin lebih tepatnya itu adalah harapan. Semoga itu adalah harapan kita semua. Seperti halnya harapan para Founding Father negeri ini, mereka dulu berjuang untuk menciptakan harapan mereka, harapan kita semua, kemerdekaan. Maka, sekarang adalah giliran kita untuk berjuang, memperjuangkan harapan kita semua. Kita semua pejuang sesuai dengan peran kita, profesi kita.
 
Sebagai orang tua, akan berjuang menghasilkan generasi muda yang siap menjadi generasi penerus bangsa. Sebagai guru, akan berjuang mendidik agar menghasil generasi penerus yang tidak hanya penuh semangat, tapi juga penuh ilmu. Sebagai pengusaha, akan berjuang menjadi perusahaan terbaik di dunia yang memberi manfaat terbaik bagi negeri ini. Sebagai karyawan, akan berjuang memberikan yang terbaik kepada perusahaan, agar perusahaan menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi negeri ini.
 
Jadi apapun bayangan kita bagi Indonesia nanti, kitalah yang berhak mewujudkannya. Tentukan peran kita, pengusaha, orang tua, karywanan atau apapun itu. Bersiap untuk berjuang, lakukan yang terbaik. Sekarang atau tidak selamanya.
 
Menunda hanya menunda terwujudnya harapan kita.

Monday, July 15, 2013

Ramadhan Waktu Yang Tepat Untuk Memulai Bisnis (Newbie)

Saya yakin, setiap masuk bulan suci Ramadhan jumlah pengusaha di Indonesia bertambah. Minimal kelas pengusaha kecil. Pengangguran secara tidak sengaja berkurang, walau tidak signifikan mungkin.  Semua ini bukan hasil kajian atau berdasarkan data survey. Tapi hanya menyampaikan dari apa yang sering saya lihat di bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat.

Contohnya di sekitar rumah saya. Jumlah pedagang meningkat. Dari yang tadinya hanya ibu rumah tangga saja, tiba-tiba berjualan makanan untuk berbuka. Dari yang tadinya pengangguran, tiba-tiba jualan es buah. Apalagi kalo memperhatikan di sekitar pasar. Jumlah pedagang meningkat drastis. Belum lagi temen-temen kantor, ada yang tiba-tiba jualan baju muslim, jualan kerudung, jualan kue kering, jualan asinan dll. 

Saya tidak tahu seperti apa kondisi lingkungan di sekitar pembaca. Tapi kondisi seperti ini sudah sering saya lihat, sudah bertahun-tahun. Saya sendiri pernah merasakannya. Di saat masuk Ramadhan saya berjualan coklat untuk lebaran. Hasilnya luar biasa. Modal yang saya siapkan sudah berputar 3-4 kali. Tapi bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, bukan hanya untuk yang berbisnis yang berhubungan dengan puasa dan lebaran saja. Entah kenapa bisnis produk kesehatan yang saya jalani sekarang, sama juga hasilnya. Meningkat hingga 2 kali bulan dibanding bulan sebelumnya. 

Jadi karena itulah saya merasa yakin, kalo mereka yang sedang bingung untuk memulai bisnis, karena kurang modal, kurang keberanian. Bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mematahkan semua belenggu pikiran itu. Insya Allah akan banyak kemudahan. Sudah banyak orang yang membuktikannya. Tapi jangan lupa, jangan habiskan bulan Ramadhan nya hanya untuk mengejar dunia semata, jadikan ikhtiar di bisnis untuk mendapatkan ridho-Nya. Tetap maksimalkan ibadah walaupun aktivitas berbisnis meningkat.

Ayo, siapa yang masih ragu, atau takut atau bingung untuk mulai berbisnis? Dengan senang hati saya berdiskusi untuk membantu mematahkan rantai gajah yang membelenggu pikiran ada. Silahkan mention saya di twitter @mangyana. 

Wednesday, July 10, 2013

Discover Me (III) --> Keputusan

Menjadi sukses ternyata adalah sebuah pilihan. Pilihan itu dimulai sejak kita memutuskan ingin menjadi apa, sejak kita memutuskan melakukan apa. Memerhatikan mereka yang menurut saya sukses, yang menurut saya berani mengambil perngorbanan besar bagi dirinya dan orang-orang yang ia cintai. Untuk sesuatu yang ia yakini, untuk sesuatu yang lebih besar.

Mengapa mereka bisa mengambil keputusan itu? Keputusan untuk melakukan dan menjalanin pengorbanan ini. Ternyata saya salah. Mereka tidak pernah merasa berkorban, mereka menikmati pengorbanan mereka. Mereka enjoy dengan pilihannya.

Discover Me (II) --> Pilihan

Tulisan ini melanjutkan sebuah tulisan yang sudah sangat lama Discover Me (I). Freeze, mungkin itu kata-kata yang tepat. Semua saya bekukan dulu. Bisnis saya stop.  

Pertanyaannya kenapa saya tidak sungguh-sungguh berusaha menjalankan bisnis saya. Padahal 8 tahun sudah saya investasikan waktu saya untuk bisnis. Tapi hasilnya tidak ada yang signifikan bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang di sekitar saya, bahkan untuk saya sendiri pun sama.

Jawaban pertama yang muncul adalah keengganan dari diri saya sediri untuk all out. Saya sudah berjanji tidak akan resign dari pekerjaan saya saat ini kepada istri, sebelum penghasilan saya dari bisnis melebihi gaji saya dari kantor. Itu keputusan saya. Saya pun akan selalu meluangkan waktu untuk keluarga setiap hari. Akhirnya karena kedua keputusan itu, maka saya mengatur waktu sehari-hari saya dengan cara jam 7-17 saya kerja. Jam 18-21 saya bersama keluarga. Jam 21-3 pagi saya menjalankan bisnis saya. 

Hasilnya pasti bisa dibayangkan. Kesehatan saya menurun, konsentrasi saya menurun. Akhirnya setiap aktivitas, saya malah tidak fokus. Hasilnya semua yang saya lakukan tidak ada yang maksimal. Bahkan dibawah minimal. Saat bersama keluarga, pikiran saya ke bisnis. Begitu pula sebaliknya.

Saturday, December 1, 2012

#Sharing A New Currency

Tanggal 21 November 2012, @ kota Palu Sulawesi Tengah

Setelah kemaren sore nonton film In Time (2011) - dimana waktu ada mata uang yang berlaku. Dan jika uang/waktu nya habis, maka orang tersebut akan mati. Berbagi waktu (sharing) dengan orang yang kita cintai menjadi sangat penting di film ini. Sebuah film action. 
Cerita soal mata uang ini mengingatkan saya dengan cerita Pak Badroni Yuzirman mengenai Forum Tangan Di Atas beberapa waktu yang lalu. Pak Handoko menyampaikan bahwa berbagi (sharing) adalah mata uang yang baru (new currency).

Wednesday, November 7, 2012

Show Me The Money

Beberapa hari yang lalu, di Makassar, saya ngobrol dengan seorang kawan. Insya Allah calon pengusaha sukses (Amin). Kawan saya bercerita, bahwa sebenarnya dari dulu ia tidak pernah punya keinginan untuk menjadi pegawai. Kepikiran saja tidak, apalagi keinginan. Orang tuanya wiraswasta. 5 saudaranya yang lain pun sama, semua hidup dari bisnisnya masing-masing. 
Untuk mempersiapkan jalannya menuju pengusaha sejati, ia menyiapkan beberapa langkah. Selepas sekolah, ia bermaksud menimba ilmu di sebuah perusahaan otomotif besar di Makassar. Karena bisnis otomotif ini yang akan dia pilih nantinya. Dua tahun saja dia belajar. Begitu ia bertekad.

Di perjalanan tahun ke-2, bidadari dari Tuhan pun datang. Dan ia pun menikah. Gak masalah, menikah bukan berarti harus mengubur cita-cita. Cuma perlu penyesuaian. Alhamdulillah, tidak perlu menunggu waktu lama, istrinya sudah hamil. Sungguh anugerah bagi mereka.

Wednesday, October 3, 2012

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Siapa yang tak kenal pepatah ini 'tak kenal maka tak sayang'. Saya yakin semua istri mengenal suaminya dan semua suami mengenal istrinya. Ya... minimal merasa mengenal. Para penggemar artis begitu menyayangi sang artis karena penggemar tersebut merasa sangat mengenal sang artis.

Sayang dengan pasangan, orang tua, anak, keluarga atau sahabat itu biasa. Katanya bukti sayang adalah perhatian terhadap yang kita sayangi.

Tapi apakah kita ingat dengan seseorang yang 24 jam selalu bersama kita? Tidak pernah sedetik dia meninggalkan diri kita.

Sunday, August 12, 2012

Discover Me (I)

Setelah 19 Januari 2012, everything never be the same.

Penyesalan terbesar dalam hidup saya setelah Papah meniggal, saya tidak pernah benar-benar berusaha memberikan sesuatu kepadanya. Membuatnya senang. Setidaknya itu menurut pandangan saya. Entah berapa banyak kesulitan saya yang ditolongnya, padahal saat itu saya merasa sudah mandiri.

Hari-hari berikutnya membuat saya merenung perjalanan hidup saya. Saat ini adalah pertama kalinya saya ditinggal oleh orang yang sangat saya cintai. Dan perpisahan itu pasti. Tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Kenangan apa yang mau saya bawa? Kenangan apa yang akan tertinggal ketika saya pergi? Istri dan anak-anak yang sangat saya cintai. Jika kami berpisah, hanya kenanganlah yang tersisa. Saya merasa telah menyia-nyiakan hidup dengan alasan Dream dan Cita-cita. Bertahun-tahun saya berusaha menjadi pengusaha, tapi sebenernya saya tidak pernah berusaha sungguh-sungguh, dengan alasan karena harus membagi waktu tenaga dan pikiran bagi keluarga. Tidak mungkin saya resign dari pekerjaan dan all out usaha saat ini. Akibatnya saya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi pengusaha sukses. Karena saya belum berhasil, akibatnya orang-orang yang saya cintai terus menerus menderita miskin waktu, pikiran dan cinta dari saya.

Satu di 2012 - II

Semua yang datang, pasti kan pergi. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Ada tangis, ada tawa.

19 Januari 2012, seolah bumi runtuh. Pahlawan, jagoan ku harus pergi. Pulang ke rumah, yang Insya Allah lebih baik.

Di sisi belahan dunia lain, semangat terus bergejolak. Beberapa minggu kemudian, acara tahunan yang selalu ditungggu-tunggu oleh Komunitas Tangan Di Atas, digelar. Pesta Wirausaha 2012. Ajang silaturahmi, belajar, membangun network, promosi hingga pemasaran pun dilakukan. Luar biasa, pesertanya jauh lebih banyak. Bahkan dari luar TDA pun banyak sekali.

Sayang acara tahunan ini harus ku sia-siakan. Pompa semangat ku belum cukup kuat untuk beredar. Aku yang aslinya pendiam, makin pendiam. Hanya senyum yang bisa dibagi.

Tidak hanya ini. Beberapa kawan ku pun mengakhiri masa lajangnya.

Bumi itu bundar. Kadang kita sedih, besok kita tertawa. Semua silih berganti. Jangan terus bersedih. Jangan pula tertawa berlebihan. Jadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran.

Wednesday, February 1, 2012

Satu di 2012 - I

Januari 2012 adalah bulan yang luar biasa bagiku. Ada duka, kesedihan yang begitu mendalam. Ada tangis yang seolah takkan pernah berhenti. Ada rencana yang tinggal rencana. Ada tawa yang begitu ceria. Ada semangat yang menggelegar sejagad bumi hingga twitterland. Ada awal baru. Ada juga yang harus berakhir.


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas pelajaran yang Engkau berikan kepada hamba.


Dimulai dari 31 Desember 2011. Hari terakhir di 2011 ini kami sekeluarga gunakan untuk berkumpul. Kami mengundang saudara dan sahabat untuk datang berkunjung dan sekedar menikmati santap siang. Dua hari yang lalu anak pertama kami, Raka di khitan. Dua minggu yang lalu kami baru saja pindah ke rumah lama yang bertransformasi menjadi rumah baru. Sayang, orang tua tercinta, Papah dan Mamah, Aki dan Ennien nya Raka, tidak bisa hadir. Tiba-tiba saja tanggal 30 Desember, Mamah menelepon kalo Papah gak bisa ke Jakarta karena kakinya sakit. Asam uratnya kambuh pikir ku. Sudah hampir 10 tahun kondisi asam urat Papah naik turun, dan seolah sakit kaki Papah adalah hal yang biasa. Tapi tidak kali ini.

Minggu depannya, tanggal 6 Januari 2011, kami berangkat ke Bandung. Malam Sabtu, hari Jumat kami berangkat dari rumah. Tiba di rumah Papah jam 11 malam. Biasanya saat buka pintu terlihat Papah ada sedang duduk di kursi di depan TV. Tapi tidak kali ini, Papah sedang tiduran di kasur di depan TV, letih, lelah, kusut, tidak seperti biasanya. Terkejut aku melihatnya. Kok sampai separah ini. Aku melihat banyak barang di meja, dari obat, air, madu, tisu, yang aku terkejut pampers. Ya Allah, kenapa Papah. Aku lihat lagi ada pispot dan... Papah pake kateter untuk buang air kencing. Seolah belum berhenti kejutanku, di kamar mandi aku melihat ada kursi yang dimodifikasi dengan dudukan closet.

Cinta Allah sedang datang, Papah sedang dibersihkan dosanya. Sakit pengurang dosa, itu yang ada dipikiranku. Malam itu aku tidur dengan kasur di lantai dengan tempat tidur Papah. Biar kakakku pulang dan istirahat. Entah sudah berapa hari ia kurang istirahat. Sepanjang malam, papah kebangun 3-5 kali, hanya minta minum. Minum pun sepertinya penuh perjuangan. Kata kakakku tadi sudah seminggu lebih tidak buang air besar, sehingga makan pun susah. Perutnya pasti tidak enak.

Sabtu pagi, aku ikut dengan kakakku untuk membawa Papah berobat ke alternatif di daerah Cibaduyut. Aku pertama kali menggendong Papah ke kursi roda, terus ke mobil. Ya Allah, tenaga di tangan ku tidak kuat, kuatkan aku ya Allah, berikan tenaga untuk Papah ya Allah. Entah sudah berapa tahun aku tidak pernah melatih badan ini. Mungkin kalo kondisiku masih seperti 10 tahun yang lalu saat aku masih kuliah, aku pasti kuat. Tapi sekarang... Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan aku tenaga. Sungguh hati ini tidak kuat, setiap habis di gendong, pasti Papah kesakitan, karena kakinya ketika berubah posisi sakit sekali. Kata orang yang mengobati ada otot juga yang salah posisi. Selesai diobati Papah sempat mencoba berdiri, untuk berjalan belum kuat katanya, pake kursi roda saja.

Sorenya kami anak-anak Papah datang dan bergantian menemani dan menyuapi. Aku berusaha bertahan menahan jangan sampai ada tetesan dari air mata. Badanku lelah, kesakitan minta istirahat. Aku tidur, kebetulan ada kakakku. Selepas Isya aku berdua dengan Papah, papah mengeluh pegel-pegel. Aku pijit, badan Papah sudah kurus tidak seperti dulu waktu aku masih sering memijitnya, aku takut terlalu keras dan mengenai tulangnya. Tapi justru kata Papah kurang keras, gak kerasa katanya. Ya sudah kutambah tenaga ku. Mungkin makin lama tenagaku makin mengecil, Papah bilang pake ini aja, botol kecil minyak oles roll on. Ya Allah apa gak sakit malah kalo pake seperti ini. Ya sudah kuturuti saja keinginannya. Ku pijit hingga tertidur, lalu aku pun ikut tidur. Tidak lama Papah bangun, minum lalu kupijit lagi. Malam ini kateternya dilepas.

Paginya Papah minta diantar ke Purwakarta untuk dipijit. Aku tidak bisa mengantar, aku harus kembali ke Jakarta siang ini. Papah pergi dengan kedua kakakku. Aku berpisah pagi itu. Semoga cepat sembuh, cuma itu yang ada dihatiku.

Kuniatkan untuk ke Bandung setiap akhir pekan hingga Papah sehat. Tapi sepertinya lebih baik aku tidak membawa serta cucunya minggu depan, supaya aku dan istri bisa lebih kosentrasi dalam merawat papah.

Tanggal 13 Januari 2011, aku kembali ke Bandung. Makin terkejut aku, kondisinya malah semakin buruk dibanding terakhir aku ke Bandung. Kali ini Papah tidak bisa tiduran, napasnya susah katanya kalo tidur, ia duduk saja. Hampir sepanjang malam Papah tidak tidur. Aku pun berusaha untuk tetap tidak tidur dan memijatnya. Hampir sepanjang malam ia menahan rasa pegal disekujur badannya, sakit sekali ia kelihatannya. Pijatan ku tidak mampu menghilangkan rasa pegalnya. Setiap seperti tidak kuat, Papah hanya berucap "Laa ila ...." sisanya tidak terdengar jelas. Ingin menangis rasanya aku mendengarnya. Aku ingin berdoa Papah sehat, tapi Allah lah yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Aku mohon yang terbaik untuk Papah. Pilihkan yang terbaik ya Allah. Jagoanku sedang sakit. Iya, buatku Papah adalah jagoan. Sejak dulu papah tidak pernah mengeluh. Didikannya yang tegas dan penuh disiplin. Kuat dan hebat. Tahu segalanya. Papah tempat bertanya segala macam hal. Saingan Papah cuma mbah Google buat ku. Apalagi istriku, Papah tempat curhat.

Paginya Papah minta dibawa ke Purwakarta. Mobil kakak gak ada, kami cari sewaan mobil. Via telepon katanya OK, tapi kok gak dateng-dateng. Siang kami baru berangkat. Ya Allah, jalannya jauh sekali ternyata, belum lagi aku salah pilih supir, ngebut terus sepanjang jalan. Bahkan Papah sempat jatuh karena rem mendadak. Sekarang kesakitan kaki Papah. Hampir 2 jam perjalanan kami, akhirnya sampai juga di sebuah desa di sekitar Wanayasa.

Satu jam lebih kutemani ia dipijat. Setelah selesai, kelihatannya ia lebih baik. Tidak ada pegal kelihatannya. Jam 5 an kami baru sampai lagi dirumah. Alhamdulillah Papah bisa makan hari ini. Mudah-mudahan ada tenaga untuk penyembuhan.

Tapi malamnya, ternyata kondisi Papah tidak lebih baik. Pegalnya datang lagi. Kadang miring enak, tidak lama pegal lagi. Pindah duduk kaki ke bawah, badan bersender ke bantal. Atau pindah ke kursi roda. Begitu terus sepanjang malam.

Esoknya hari Minggu, jam 13 aku harus pulang. Kasihan Ibu mertua yang sudah 2 hari kutitipkan anak-anak. Tapi aku juga tidak mau pulang meninggalkan Papah yang seperti ini. Paginya Papah buang air besar, kakakku dengan telaten membersihkannya. Alhamdulillah. Sudah seminggu tidak buang air besar. Siangnya setelah shalat, aku pamit. Kucium tangan dan kening. Aku ingin minggu depan aku ke Bandung untuk menemani Papah jalan-jalan, itu yang ku bilang. Amin katanya. Istriku pamit. Papah berucap lagi "La ilaha Ilallah". Jelas. Istriku menangis. Aku menahan tangis dan menenangkan istriku. Kami pamit. Nanti Jumat kami ke Bandung lagi.

Selasa, kata istriku, kabar dari bandung, Papah sudah mulai membaik. Makan sudah banyak. Sudah bisa ngaji lagi. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Rabu rencananya aku ada pekerjaan ke Bandung. Tapi belum pasti. Kalo sudah pasti aku mau pergi duluan pagi-pagi, jadi bisa nengok Papah dulu sebelum kerja. Tapi jam 11, batal. Gak jadi ke Bandung. Ya sudahlah.

19 Januari 2012.

Hari yang kan selalu kuingat. Malamnya aku tertidur, sedangkan aku belum shalat isya. Aku bangun, duduk di kursi eh malah tidur lagi. Jam 1 telepon rumah berbunyi, siapa? Orang iseng lagi? Minggu kemaren ada orang iseng terus. Ku tekan tombol bicara terus tidur lagi. Jam 3 tiba-tiba aku terbangun. Ya Allah maaf aku membiarkan diriku tidur. Buru-buru aku wudhu. Setelah Isya, kulanjut Tahajjud. Ku berdoa untuk Papah, semoga yang terbaik. Jika sudah waktunya, semoga husnulkhotimah. Amin. Ku ambil hp, aku mau cek shubuh berapa jam lagi, hp kuhidupkan, kok ada misscall dari bandung. Ku telepon kakakku. "Na, Papah udah gak ada"

Waktu terasa berhenti, aku tidak mendengar apa-apa lagi, air mata mengalir deras, makin lama, aku menangis semakin kencang. Istriku bangun dan mengambil hp.

04.00 aku berangkat ke Bandung. Semoga mobil ku bisa ngebut. Aku mau mandiin Papah. Cuma itu yang kumau sekarang. Sudah berapa tahun, Si Ijo tidak pernah kubawa ngebut. 120 km/jam, aku gak tega ditekan lagi. Napas Si Ijo masih ada, tapi kasian. Si Ijo ini kenang-kenangan dari Papah.

Aku berhenti sebentar untuk shubuh. Sepanjang jalan aku tidak bisa menahan air mataku. Anak-anak tertidur dibelakang. Aku tiba di rumah Papah jam 06.25. Papah sudah rapih, terlambat, Papah sudah dimandiin. Aku menunduk dengan air mata. Tinggal menyolatkan yang bisa kulakukan. Ku ambil wudhu dan ku shalat di depan jenazah.

Papah meninggal tadi jam 00.05. Ketika aku tahajjud Papah sudah pergi. Penderitaannya di dunia sudah selesai. Semoga ia dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka. Jam 11 Papah dimakamkan. Tidak kuat aku melihat tanah menutup jenazahnya. Rasanya aku lompat dan menemaninya. Kasihan Papah sendiri disana. Gelap. Dingin.

Selamat jalan Papah. Terima kasih untuk semua yang sudah engkau berikan. Maaf aku belum berbakti kepadamu. Maaf aku belum sempat mengucapkan terima kasih langsung. Aku mencintaimu Papah.

Ya Allah ampuni dosa nya, terima lah amalannya, tempatkan disisi Mu bersama orang-orang beriman.

Amin




Sunday, November 6, 2011

Menuju Akhir Tahun

Setiap menjelang akhir tahun banyak perusahaan menyiapkan rencana tahun depan. Sebagai individu yang masih banyak harus belajar, saya pun banyak mengevaluasi tahun 2011 yang sudah saya jalani 90% ini. Seperti sedikit kemajuan yang saya rencanakan terjadi. Bahkan dibeberapa sisi banyak kemunduruan.
Bagaimana mungkin sebuah perusahaan bisa maju, jika individunya mengalami kemunduran. Bagaimana mungkin sebuah keluarga bisa mengalami kemajuan, jika pemimpin keluarga mengalami kemunduran. Bagaimana mungkin kualitas hidup bisa meningkat, jika pribadi menurun.
Semoga evaluasi ini tidak sekedar tulisan saja. Tapi berlanjut dengan perbaikan, tindakan nyata dan kemajuan. Seperti yang setiap orang inginkan.
Jika anda ingin tempat kerja atau perusahaan anda lebih baaiik, jika anda ingin keluarga anda lebih baik, jika anda ingin suami/istri anda lebih baik, jika anda ingin kehidupan anda lebih baik. Mulai perbaiki diri kita sendiri.

Wednesday, February 23, 2011

Goal (1)

Sudah dua bulan ini saya dan beberapa kawan berlatih membuat goal. Ternyata tidak mudah. Membuat goal adalah sebuat skill tersendiri. Skill nya otak kanan. Karena goal diri sendiri, bukan dibuat dengan asalan logika. Tapi hasrat, emosi, pribadi, cita rasa, kecintaan, kesukaan.

Anak-anak adalah pembuat goal paling jago. Coba tanya apa yang mereka mau, atau tanya mau jadi apa. Mereka pada umumnya lebih cepat menjawab dari pada orang dewasa. Orang dewasa cenderung lebih banyak berpikir dan mempertimbangkan sebelum menjawab.

Apakah Anda pernah bermimpi atau mempunyai impian? Ingin menjadi kan mimpi itu jadi kenyataan? Jadikan mimpi itu Goal Anda. Goal yang dibuat dengan penuh cinta, emosi, hasrat penuh otak kanan, tapi juga jelas sehingga otak kiri Anda pun akan bekerja untuk berpikir dan bertindak untuk meraih nya.

What could it be, a world without a dream...

I dream a better, peace, love, wealth, Indonesia

Bersyukur

Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tak terasa sudah 30 tahun aku hidup di bumi Nya ini. Berlimpah nikmat dan kasih sayang.
Aku lahir di keluarga yang bekecupan. Orang tua ku mampu menyekolahkan aku hingga kuliah. Banyak hal yang kuinginkan dari kecil dikabulkan Nya. Mungkin selama 20 tahun aku nyaris tidak mengenal perjuangan hidup. Aku melihat tapi sedikit bisa merasakan mereka yang berjuang untuk mempertahankan hidup atau memberikan yang terbaik untuk yang mereka cintai.
Walaupun dulu keluarga bukan orang kaya, tapi kami bisa jalan-jalan bersama. Kalo liburan sekolah, pasti aku berkumpul dengan saudara di rumah nenek. Di rumah aku punya kebun sendiri. Ada banyak tanaman dan binatang kecil yang menarik seperti kupu-kupu.
Orang tuaku tidak pernah marah. Mereka mampu mengarahkan ku tanpa menggunakan kata jangan atau tidak boleh.
Melihat kebelakang sungguh besar dan banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada ku. Sungguh sedikit aku bersyukur atas nikmatnya.
Bagaimana dengan Anda?
Semoga mulai hari aku selalu mensyukuri setiap nikmat Nya. Minimal aku harus lebih berusaha.

Monday, September 27, 2010

Satu Lagi Dari Om Bob

Beberapa hari yang lalu saya menonton acara sejenis talkshow di TVone. Tokoh nama acara nya, yang di interview adalah Om Bob Sadino. Sudah beberapa kali sebenarnya saya melihat penampilan Om Bob ini. Di acara Komunitas TDA sudah beberapa kali kayanya. Sesudah Lebaran kemaren nyaris saya ikut teman TDA silaturahmi ke rumah Om Bob, tapi rupanya belum jodoh.

Walau sudah meilhat beberapa kali tapi masih gak bosen melihat Om Bob menjelaskan hal yang sama. Tapi kali ini Om Bob menjelaskan lebih jauh apa yang medasari pola pikir dan gayanya selama ini. Freedom. Kebebasan. Merdeka.

Yang Om Bob maksud adalah kebebasan berpikir, bergerak, bertindak, berbicara. Sebenar-benarnya bebas. Termasuk dalam pake celana pendek. ( Saya baru tahu, kalo mau lihat Om Bob pake celana panjang di acara pernikahan dan pemakaman).

Sukses untuk Om Bob hanya sebuah akibat. Begitu pula resiko atau pun gagal. Jadi kalo orang bilang Om Bob sudah sukses, buat Om Bob semua hanya akibat dari perbuatannya selama ini.

Satu hal yang selalu sama (mungkin ini hukum Tuhan), bertindak akan menghasilkan akibat. Merencakan akan menghasilkan sukses atau gagal. Apalagi rencana tanpa tindakan, pasti gagal hasilnya.

Hanya mereka yang bertindak akan mendapatkan hasil / akibat. Gagal atau sukses adalah saudara kembar seperti terang dan gelap, hitam dan putih. Akibatnya bisa gagal, bisa sukses, tapi pasti tidak akan selalu gagal atau selalu sukses.

Jadi apa tindakan saya hari ini?

Richard Branson: Five Secrets to Business Success - Entrepreneur.com

Richard Branson: Five Secrets to Business Success - Entrepreneur.com

Wajib di baca.

Thursday, September 16, 2010

Lebaran 2010 : How Do We Die ?

Judulnya aneh gak? Lebaran ngomongin kok gimana kita mati.

Seperti biasa seperti orang-orang pada umumnya, Lebaran digunakan untuk bersilaturahmi, yang sudah sering bertemu, makin erat silaturahminya, yang jarang berjumpa di sambung kembali silaturahminya. Ada beberapa keluarga yang cukup lama terputus komunikasinya kami kunjungi.

Dari silaturahmi ini, berkumpulah mereka yang sudah merasa kakek dan nenek, karena sama-sama sudah punya cucu. Bahkan ada yang sudah punya cicit. Umurnya sudah 100 tahun.

Dari dikusi beliau-beliau ini, ada satu yang selalu saya ingat. Katanya : Sekarang mah gimana kita mati. Udah gak mikirin harta, rumah, anak-anak udah gede udah mandiri. Paling berdua aja sama istri. Mau sakit atau sehat sama aja. Yang dipikirin gimana nanti mati.

Akankah kita meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah?

Yang muda mencari harta, pekerjaan, rumah, mobil, karir, istri, anak. Setelah itu? Setelah selesai semua? Kalo hanya itu yang dicari, pasti bisa, dan pasti akan selesai. Tapi apakah hidup kita sependek itu? Apakah manfaat kita sependek itu? Mari kita karya kan diri kita untuk agama, umat dan bangsa ini. Sampai ujung hayat...

Silaturahmi kemaren sangat membekas, rasanya tubuh yang Allah SWT berikan ini masih dikaryakan secara sempit. Hanya untuk diri sendiri. Maksimal untuk keluarga dekat. Semoga tulisan ini membuat hamba selalu ingat peringatan yang Engkau berikan.

Semoga kita kembali dalam keadaan Husnul Khatimah

Ied Mubarak 1 Syawal 1431 H

Mang Yana dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Taqaballahu Minna wa Minkum.
Semoga Allah meridhoi ibadah puasa kita

Sunday, August 22, 2010

KKD : Komitmen Konsisten dan Disiplin

KKP, itulah pelajaran yang saya petik di perjalanan bisnis Kerupuk Setan. Niat, kemauan, rencana sudah. Tinggal action. Action sudah. Lalu?
Perlu komitmen, konsisten dan disiplin yang tinggi. Apa artinya rencana tanpa action. No Action Nothing Happen. Take Action Miracle Happen. Gitu katanya.
Kalo belum punya rencana, cukup action. Tapi kalo punya rencana, actionnya harus sesuai rencana donk. Kalopun berubah, bukan karena mood atau godaan kanan kiri, tapi karena hasil evaluasi. Dan evaluasi terjadi karena suatu akibat, berarti sesuatu sudah dikerjakan. Jangan belum dikerjakan, terus actionya diubah jadi tidak sesuai rencana. Seenaknya lagi. Gimana partner anda, gimana suplier anda, gimana konsumen anda.

Tanpa komitmen yang tinggi, pasti males-malesan actionnya. Tanpa kosisten terhadap rencana, gimana mau mengevaluasi rencana yang disiapkan. Tanpa disiplin, pasti actionnya melenceng-melenceng dari rencana, dan jangan salahkan rencana, kalo hasilnya tidak sesuai dengan yang direncanakan.

Rencana saya di Kerupuk Setan adalah door to door marketing, tidak jalan, karena kurangnya komitmen. Rencana saya di Kerupuk Setan adalah konsinyasi marketing, tidak jalan, karena tidak konsisten, padahal 'pintu sudah dibuka'. Rencana saya di Kerupuk Setan adalah min produksi 50 pax per hari, tidak jalan, karena disiplin rendah.

Itu evaluasi hari ini. Semoga tidak berhenti sampai evaluasi. Take coutermeasure action. Not just action, better action.

Terpaksa Istirahat Dulu

Tahun ini ternyata saya hanya rajin nulis du Bulan Januari. Setelah itu... Istirahat dulu. Terpaksa istirahat ngBlog karena perkembangan bisnis yang memerlukan waktu yang lebih luas.

Hari ini... terpaksa bisnisnya istirahat dulu. Dan jadinya latihan ngBlog lagi.

Seperti itu usaha sendiri katanya. Bukan kata saya, tapi kata seorang teman yang sudah bertahun-tahun menjalaninya. Kadang sibuk banget, sampai kayanya kerjaan terlalu banyak, rejeki sangat melimpah. Tapi kadang toko sepi banget, kaya udah tutup.

Hari ini, Tanah Abang luar biasa padetnya. Tapi besok sesudah lebaran, atau sesudah lebaran haji, sepi......

Alhamdulillah hasil fokus 6 bulan terakhir pada kerupuk setan mampu memberikan 9 digit yang konsisten selama 3 bulan. Dan itu pun dilakukan tanpa effort yang luar biasa, hanya konsisten. Ya... hanya action terhadap plan. Jesduit (Just Do It).

Tapi akhirnya sebulan sebelum Ramadhan saya harus istirahat dan gantian dengan TheSemut. Rejeki sudah diatur. Ujian di Juni, loading di TDB yang luar biasa, karyawan yang keluar masuk, keluar lagi semua :-), mitra yang gagal hingga 3juta rupiah kerupuk harus melayang. Belum lagi sisa kerupuk yang tidak layak jual. Waktunya mengurangi kecepatan. Bahkan rupanya rem tangan terpaksa ditarik, buka peta dan catatan. Ada beberapa perlengkapan navigasi yang tidak digunakan dengan baik, terlalu banyak faktor emosional dan melupakan kehati-hatian. Mungkin terlalu percaya diri.

Ramadhan ini istirahat dulu. Introspeksi, evaluasi... menyiapkan transformasi yang lebih baik, lebih bijaksana. Latihan mengendalikan hawa nafsu dulu.

Friday, January 15, 2010

Kerupuk Setan : Transformasi 1

Pernah nonton Transformer gak? Kalo mau berubah, Optimus Prime biasanya bilang gini

"Autobots, transform"

Transform menurut translate.google.com adalah mengubah.

Saat-saat ini, adalah saat Kerupuk Setan melakukan transformasi. Berubah dari one man show jadi one team show. Kemaren saya baru saja posting mengenai lowongan untuk sales di Kerupuk Setan. Berubah dari self employee menjadi bussiness owner. Saat ini posisi saya di Kerupuk Setan bisa dibilang self employee, karena kaya dokter, kalo saya gak kerja, yang gak dapet uang.

Katanya sich belum jadi bussiness owner kalo yang ngejalanin usahanya kita sendiri, kalo tanpa kehadiran kita usaha tidak bisa berjalan. Untuk itulah saya membuka lowongan. Dengan tambahan bantuan 1-2 orang paling gak sudah bukan one man show, tapi one team show.

Perubahan itu bukanlah hal mudah. Tapi menyenangkan. Coba anda rasakan, saat dari balita ke SD, ke remaja, ke dewasa. Dari pacaran jadi menikah, punya anak, tumbuh besar. Banyak hal-hal yang tidak mudah dilalui. Tapi tetap kita lalui. Dan menjadi cerita menarik setelahnya.

Biasa mengerjakan berbagi hal sendiri, dengan standar sendiri, susah / senang adalah hasil sendiri. Dinikmatin sendiri. Next, yang ngerjain orang lain. Bisa gak mereka? Sama gak visinya? Hasilnya? Masalah apa yang timbul? Welllll itu nikmatnya...

Keraguan muncul, tapi masa depan menunggu untuk diraih. Pilihan sudah ditetapkan. Selamat datang calon tim Kerupuk Setan. Semoga harapan & kebutuhan Anda terpenuhi disini.