Wednesday, July 10, 2013

Discover Me (III) --> Keputusan

Menjadi sukses ternyata adalah sebuah pilihan. Pilihan itu dimulai sejak kita memutuskan ingin menjadi apa, sejak kita memutuskan melakukan apa. Memerhatikan mereka yang menurut saya sukses, yang menurut saya berani mengambil perngorbanan besar bagi dirinya dan orang-orang yang ia cintai. Untuk sesuatu yang ia yakini, untuk sesuatu yang lebih besar.

Mengapa mereka bisa mengambil keputusan itu? Keputusan untuk melakukan dan menjalanin pengorbanan ini. Ternyata saya salah. Mereka tidak pernah merasa berkorban, mereka menikmati pengorbanan mereka. Mereka enjoy dengan pilihannya.

Discover Me (II) --> Pilihan

Tulisan ini melanjutkan sebuah tulisan yang sudah sangat lama Discover Me (I). Freeze, mungkin itu kata-kata yang tepat. Semua saya bekukan dulu. Bisnis saya stop.  

Pertanyaannya kenapa saya tidak sungguh-sungguh berusaha menjalankan bisnis saya. Padahal 8 tahun sudah saya investasikan waktu saya untuk bisnis. Tapi hasilnya tidak ada yang signifikan bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang di sekitar saya, bahkan untuk saya sendiri pun sama.

Jawaban pertama yang muncul adalah keengganan dari diri saya sediri untuk all out. Saya sudah berjanji tidak akan resign dari pekerjaan saya saat ini kepada istri, sebelum penghasilan saya dari bisnis melebihi gaji saya dari kantor. Itu keputusan saya. Saya pun akan selalu meluangkan waktu untuk keluarga setiap hari. Akhirnya karena kedua keputusan itu, maka saya mengatur waktu sehari-hari saya dengan cara jam 7-17 saya kerja. Jam 18-21 saya bersama keluarga. Jam 21-3 pagi saya menjalankan bisnis saya. 

Hasilnya pasti bisa dibayangkan. Kesehatan saya menurun, konsentrasi saya menurun. Akhirnya setiap aktivitas, saya malah tidak fokus. Hasilnya semua yang saya lakukan tidak ada yang maksimal. Bahkan dibawah minimal. Saat bersama keluarga, pikiran saya ke bisnis. Begitu pula sebaliknya.

Saturday, December 1, 2012

#Sharing A New Currency

Tanggal 21 November 2012, @ kota Palu Sulawesi Tengah

Setelah kemaren sore nonton film In Time (2011) - dimana waktu ada mata uang yang berlaku. Dan jika uang/waktu nya habis, maka orang tersebut akan mati. Berbagi waktu (sharing) dengan orang yang kita cintai menjadi sangat penting di film ini. Sebuah film action. 
Cerita soal mata uang ini mengingatkan saya dengan cerita Pak Badroni Yuzirman mengenai Forum Tangan Di Atas beberapa waktu yang lalu. Pak Handoko menyampaikan bahwa berbagi (sharing) adalah mata uang yang baru (new currency).

Wednesday, November 7, 2012

Show Me The Money

Beberapa hari yang lalu, di Makassar, saya ngobrol dengan seorang kawan. Insya Allah calon pengusaha sukses (Amin). Kawan saya bercerita, bahwa sebenarnya dari dulu ia tidak pernah punya keinginan untuk menjadi pegawai. Kepikiran saja tidak, apalagi keinginan. Orang tuanya wiraswasta. 5 saudaranya yang lain pun sama, semua hidup dari bisnisnya masing-masing. 
Untuk mempersiapkan jalannya menuju pengusaha sejati, ia menyiapkan beberapa langkah. Selepas sekolah, ia bermaksud menimba ilmu di sebuah perusahaan otomotif besar di Makassar. Karena bisnis otomotif ini yang akan dia pilih nantinya. Dua tahun saja dia belajar. Begitu ia bertekad.

Di perjalanan tahun ke-2, bidadari dari Tuhan pun datang. Dan ia pun menikah. Gak masalah, menikah bukan berarti harus mengubur cita-cita. Cuma perlu penyesuaian. Alhamdulillah, tidak perlu menunggu waktu lama, istrinya sudah hamil. Sungguh anugerah bagi mereka.

Wednesday, October 3, 2012

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Siapa yang tak kenal pepatah ini 'tak kenal maka tak sayang'. Saya yakin semua istri mengenal suaminya dan semua suami mengenal istrinya. Ya... minimal merasa mengenal. Para penggemar artis begitu menyayangi sang artis karena penggemar tersebut merasa sangat mengenal sang artis.

Sayang dengan pasangan, orang tua, anak, keluarga atau sahabat itu biasa. Katanya bukti sayang adalah perhatian terhadap yang kita sayangi.

Tapi apakah kita ingat dengan seseorang yang 24 jam selalu bersama kita? Tidak pernah sedetik dia meninggalkan diri kita.

Sunday, August 12, 2012

Discover Me (I)

Setelah 19 Januari 2012, everything never be the same.

Penyesalan terbesar dalam hidup saya setelah Papah meniggal, saya tidak pernah benar-benar berusaha memberikan sesuatu kepadanya. Membuatnya senang. Setidaknya itu menurut pandangan saya. Entah berapa banyak kesulitan saya yang ditolongnya, padahal saat itu saya merasa sudah mandiri.

Hari-hari berikutnya membuat saya merenung perjalanan hidup saya. Saat ini adalah pertama kalinya saya ditinggal oleh orang yang sangat saya cintai. Dan perpisahan itu pasti. Tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Kenangan apa yang mau saya bawa? Kenangan apa yang akan tertinggal ketika saya pergi? Istri dan anak-anak yang sangat saya cintai. Jika kami berpisah, hanya kenanganlah yang tersisa. Saya merasa telah menyia-nyiakan hidup dengan alasan Dream dan Cita-cita. Bertahun-tahun saya berusaha menjadi pengusaha, tapi sebenernya saya tidak pernah berusaha sungguh-sungguh, dengan alasan karena harus membagi waktu tenaga dan pikiran bagi keluarga. Tidak mungkin saya resign dari pekerjaan dan all out usaha saat ini. Akibatnya saya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi pengusaha sukses. Karena saya belum berhasil, akibatnya orang-orang yang saya cintai terus menerus menderita miskin waktu, pikiran dan cinta dari saya.

Satu di 2012 - II

Semua yang datang, pasti kan pergi. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Ada tangis, ada tawa.

19 Januari 2012, seolah bumi runtuh. Pahlawan, jagoan ku harus pergi. Pulang ke rumah, yang Insya Allah lebih baik.

Di sisi belahan dunia lain, semangat terus bergejolak. Beberapa minggu kemudian, acara tahunan yang selalu ditungggu-tunggu oleh Komunitas Tangan Di Atas, digelar. Pesta Wirausaha 2012. Ajang silaturahmi, belajar, membangun network, promosi hingga pemasaran pun dilakukan. Luar biasa, pesertanya jauh lebih banyak. Bahkan dari luar TDA pun banyak sekali.

Sayang acara tahunan ini harus ku sia-siakan. Pompa semangat ku belum cukup kuat untuk beredar. Aku yang aslinya pendiam, makin pendiam. Hanya senyum yang bisa dibagi.

Tidak hanya ini. Beberapa kawan ku pun mengakhiri masa lajangnya.

Bumi itu bundar. Kadang kita sedih, besok kita tertawa. Semua silih berganti. Jangan terus bersedih. Jangan pula tertawa berlebihan. Jadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran.