Tuesday, November 24, 2009

Menentukan Lokasi Usaha

Tulisan ini saya buat setelah mengikuti workshop Bisnis Retail bersama Christian W. Guswai.

Secara prioritas dalam menentukan lokasi yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Visible. Mudah dilihat. Kalo ga kelihatan repot. Siapa yang mau dateng. Sebar brosur, nyarinya susah banget.
2. Heavy traffic, bukan fast traffic. Ramai, padat, dan mereka gak ngebut. Makin pelan makin bagus. Coba lihat, daerah macet banyak yang jualan kan?
3. Arus pulang. Maksudnya, posisinya ada di jalur, arah orang pulang. Bukan arah orang pergi kerja.
4. Public transportation. Contohnya, terminal, fasilitas umumnya banyak. Massa biasanya banyak berkumpul di daerah yang ada banyak fasilitas umum. Atau fasilitas umum banyak dibangun di daerah yang banyak massa nya.
5. Acquisition cost. Biaya untuk mendapatkan lokasi tersebut. Ini prioritas ke 5 lho, bukan pertama.
6. Regulasi. Di lokasi tersebut, produk / jasa kita diijinkan di daerah tersebut.
7. Access. Jangan sampai gak ada jalan untuk masuk ke lokasi tersebut.

Cara memakainya sederhana. Buat tabel. Kasih point skala 1-7. Masukan point ke calon lokasi yang Anda bingung memilihnya. Lalu buat urutannya. Pilihlah yang effort agar usaha anda sukses paling ringan. Kecuali anda suka tantangan.

Sunday, November 22, 2009

Apa yang salah dengan MLM?

Saya tidak tahu apakah Anda member MLM atau bukan. Tapi kebanyakan orang disekitar saya kalo diajak untuk ikut MLM, biasanya dia akan menolak. Why?

Ada sebagian orang yang melihat MLM itu terlalu negative, hanya merekrut orang, setor uang nanti dibawa kabur. Ya… mungkin sebagian orang itu memang pernah ngalamin hal itu. Atau mungkin ada (atau banyak, saya ga tahu) MLM di Indonesia, yang oleh pendirinya memang bertujuan seperti itu.

Yang mau saya garis bawahi adalah merekrut orang. Di Indonesia, kalo MLM presentasi, apa yang dia promosikan? Cara cepat kaya. Cara Instan. Ini yang menurut saya bahaya. Sehingga banyak member nya yang kecewa, karena gak kaya-kaya. Padahal waktu perkenalan pertama, kok kayanya gampang kaya. Yang sukses banyak sekali, mereka semua pada maju ke depan panggung. Gayanya keren-keren.

Jangan Anda pernah mau yang isntan. Yang instan itu hasilnya juga instan. Bisa Anda buat rumah sehari, pasti bisa. Bisa Anda buat rumah seminggu, bisa. Bisa buat rumah 6 bulan, apalagi, pasti bisa. Bagaimana kualitasnya antara sehari, seminggu, sebulan atau 6 bulan? Pasti beda kan? Begitu juga dengan kaya dan sukses. Kalo mau cepat kaya, ya ngerampok aja, cepet kan?

Sebenarnya MLM yang saya pahami adalah sebuah strategi marketing, yaitu Direct Selling. Ada banyak product yang akan sulit dijual tanpa pendekatan personal oleh salesnya. Sulit menjelaskan product yang begitu hebat, hanya dengan selembar brosur. Makanya, biasanya sales Direct Selling memahami productnya karena ia menggunakannya. Begitu biasanya yang dianjurkan di MLM. Anda diminta mengkonsumsi productnya. Sehingga Anda bisa merasakan manfaatnya, dan bisa menceritakan ke orang lain.

Mana yang lebih Anda percaya, pengguna atau hanya penjual biasa? Pasti kita lebih percaya dengan yang menggunakan.

Jadi, apa yang salah dengan MLM? Tidak ada. Kecuali MLM itu menjanjikan Anda cepat kaya, menyuruh Anda merekrut orang sebanyak-banyaknya, tapi tidak menjelaskan keunggulan productnya, tidak menyuruh Anda menkonsumsi dan menjual productnya, maka berhati-hatilah.

Friday, November 6, 2009

Mindset UKM vs mindset korporasi

Anda yang sudah menjalankan usaha, pernahkah anda merasa kalo bisnis anda tidak ada perubahan. 'Saya mau bisnis apa aja jalan. Tapi ya segitu-segitu aja levelnya.' Saat itu terjadi, tanya pada diri sendiri, apa mindset saat kita memulai bisnis.
- Mau cari sambilan ah
- Mau cari uang tambahan
- Mau punya usaha
- Mau punya toko
- Pengen punya bisnis sendiri
- Mau mendirikan perusahaan

Seorang kawan TDA, yang saya anggap beliau sebagai mentor bisnis saya, pernah berkata dengan saya saat chat, kalo penyebab UKM tidak bisa maju adalah karena mindset UKM diawal adalah yang penting bisnis bisa jalan. Tapi bukan ingin membuat sebuah perusahaan.

Pedagang asongan pun bisnisnya jalan. Tukang becak pun bisnisnya jalan. Tapi UKM yang kita anggap pengusaha, harusnya tidak berpikir hanya membuat bisnis yang jalan. Tapi membuat perusahaan yang bisa menggerakkan roda perekonomian, saat roda berputar, maka perusahaan itu akan memberi manfaat untuk orang di dalam dan di sekitarnya.

Jadi coba anda review lagi mindset anda ketika memulai usaha. Jangan-jangan mindset anda itu yang mebuat usaha anda tidak ada kemajuan.

Sunday, November 1, 2009

Silaturahmi / Gathering / Reuni Mastermind TDA Jaktim

Assalamu alaikum,
Dear rekan-rekan TDA Jaktim, Alhamdulillah, Insya Allah kita akan silaturahmi secara offline pada :
Hari / tanggal : Minggu / 8 November 2009
Waktu : 09.00 - 15.00

Insya Allah Pa Haji Alay dan Pa Roni (konfirmasi terakhir di Halal Bi Halal TDA di Depok).
Nara sumber Bu Sri Kurniatun akan sharing mengenai UKM Finance (dalam konfirmasi) dan Pa Rosihan akan sharing mengenai profit & action (konfirmasi terakhir 25 Oktober).
Lokasi : Kediaman Bu Nur, Taman Harapan Baru Blok R 1 No 1 RT 005 RW 027 Pejuang Bekasi Barat. (Peta menyusul)

Pendaftaran :
Dian : 081511373630
Hany : 021-93635545
Subject : daftar silaturahmi 081109
Biaya : Rp 25.000 + 3 digit no hp
Pembayaran terakhir 6 November 2009 :
No rek : BCA : 6640021592 an Hany Ansyoriah
No. rek Mandiri : 0005020897 an Hany Ansyoriah

Acara ini terbuka bagi member komunitas Tangan Di Atas (tidak wajib TDA Jaktim)
Mohon maaf, workshopnya kami pending dulu.

Mang Yana
0816616801

Tuesday, July 21, 2009

Dicari : Rumah Makan Untuk Konsinyasi Mang Yana Food

Setelah 3 bulan mendaklarasikan diri, Mang Yana Food menawarkan kerjasama dengan Anda yang memiliki usaha rumah makan, warung makan, ataupun gerobak baso. Kerjasama ini dijamin anti rugi dan investasi kecil (bahkan nol). Bentuk kerja sama adalah konsinyasi, dengan skema berikut :

1. Pemilik rumah makan, warung makan, ataupun gerobak baso cukup menyediakan space kurang lebih 50x50 cm. Ukuran space bisa disesuaikan dengan kondisi di lokasi.
2. Mang Yana Food akan menyediakan produk dan tempat meletakkan produk (rak).
3. Pemilik rumah makan, warung makan, ataupun gerobak baso bisa menjual produk Mang Yana Food, dengan margin antara 20%-40% (tergantung produk).
4. Produk setiap minggu akan diganti dengan yang baru.

Dengan bentuk kerjasama seperti ini, tidak ada resiko yang ditanggung oleh pemilik rumah makan, warung makan, ataupun gerobak baso. Dijamin anti rugi.

Pemilihan produk dapat disesuaikan dengan kondisi konsumen.

Kesempatan ini hanya terbatas hingga 10 lokasi. Jadi segera hubungi Mang Yana Food di 021-91543672 / 0816-616801 atau email ke yanawungkul@gmail.com

Mang Yana

Tuesday, June 30, 2009

Selayang Pandang PRJ

Pekan Raya Jakarta yang sekarang dikenal sebagai Jakarta Fair Kemayoran, memberi pelajaran berharga. Acara yang dimulai tanggal 11 Juni 2009 ini disambut dengan animo masyarakat yang cukup bagus. Indikatornya dari kondisi parkiran, dari tiket masuk, dari situasi di dalam arena yang tidak pernah sepi pengunjung.

Tapi, arena PRJ yang super luas, sehingga tidak berarti seluruh stand di PRJ di banjiri pengunjung. Hall-hall utama, relatif dipenuhi pengunjung. Sedangkan hall tambahan seperti Hall D3, ataupun arena Gambir Expo, naik turun pengunjung cukup terasa. Pengunjung relatif terfokus di arena depan panggung. Dimana di area tersebut diisi oleh merk-merk ternama, seperti sepeda motor Honda, Yamaha, Suzuki, Bajaj, TVS dan Minerva yang sedang agresif promosi tahun ini. Selain itu makanan dikuasai oleh merk-merk ternama pula, Wing dengan Mi Sedap, Indofood dengan Indomie, Kraft dengan Oreo, Unilever dengan produk rumah tangganya pun tidak ketinggalan, belum lagi rokok dan operator seluler. Kabarnya arena ini sudah dibayar, setelah PRJ 2008 usai. Entah benar atau tidak. Tapi mungkin tahun ini peserta akan menahan, pasalnya Pemkot akan men-tenderkan ulang pengelola acara PRJ ini. Sehingga belum tentu dilaksanakan oleh JIExpo. Mungkin ini akibat dari keluhan beberapa masyarakat mengenai acara PRJ ini, mahal dan kesan Jakarta atau Betawi tidak terasa.

PRJ kali ini tidak terasa seperti pesta rakyat, selain diisi oleh kemewahan berbagai stand, pesta panggung masing-masing stand (banyak stand memiliki panggung sendiri untuk menampilkan penyanyi atau sexy dancer), dan gemerlap artis. Sedangkan Betawi hanya diisi oleh satu stand makanan dan minuman khas Betawi dan beretebarannya pedagang kerak telor. Sisanya, ya... seperti toko biasa, tapi mewah.

Entah apa yang dirasakan pengungjung PRJ, mungkin pengelola harus mengumpulkan testimoni dan mengevaluasi acara PRJ. Karena sebelum acara PRJ dibuka, saat konferensi pers, yang didengungkan dari PRJ bukanlah pesta rakyat, tapi nilai ekonomi, dimana para pedagang dari Indonesia dan negara tetangga tertarik untuk ikut serta di acara ini. Ya... memang ini pula yang ada di benak saya. Tapi sepertinya masa jaya PRJ sudah lewat. Kalo tidak ada perubahan yang signifikan dari konsep PRJ, mungkin animonya akan menurun. Mungkin karena itu pula Pemkot DKI berencana men-tenderkan ulang.

Ya... mudah-mudahan PRJ tahun depan lebih baik dan lebih "menggigit".

Fw: Sharing : PRJ Hall D3 (Mohon masukkannya)

Ini adalah curhat saya ke KMM Oase Timur Komunitas TDA dan beberapa rekan TDA lainnya.
_______________________________________________________________________________________________

Teman-teman Oase Timur, gimana kabarnya?
Kemaren jadi kumpul kah?
Saya mau sharing sekalian minta masukkannya.
Saya lagi konflik nich, di internal, pribadi. Bingung terus berjuang di PRJ, atau stop, dan balik lagi berjuang di luar PRJ.

Setelah berjuang 20 harian, sepertinya sales di PRJ sudah melewati optimum. Sekarang justru kondisinya mulai menurun. Rata-rata omzet sehari kurang dari 100ribu. Sebenarnya masih ada beberapa ide yang belum sempat saya jalankan. Oya, rekomendari Pa Annas beberapa sudah saya jalankan.

Kurang lebih kendala dari stand Hall D3 PRJ :
1. Lokasi. Terlalu dekat pintu masuk arena PRJ, bukan pintu hall. Posisi sebelah kiri. Konsumen cenderung mau liat-liat, apalagi ketika baru masuk, males langsung belanja. Umumnya, konsumen ketika masuk langsung belok kanan. Jadi stand TDA kurang dilihat. Tetangga stand di depan, adalah cream bengkoang Dempo, yang salesnya super agresif. Tangan konsumen bisa langsung dipegang dan ditarik ke dalam stand. Membuat konsumen takut lama-lama di daerah situ.

2. Peserta. 27x3 m diisi oleh 12 peserta, dengan rata-rata spg 2 orang. Hanya saya sendiri yang gak pake spg. Beberapa spg nya 1 orang. Ketika semua spg berdiri di depan stand, otomatis isi stand langsung ketutup. Kalo pun melakukan penawaran secara lisan, jadinya sahut-sahutan. Buat pusing konsumen. Pernah kita mencoba strategi yang membuat konsumen mau melihat dan dateng, tapi kesulitan muncul karena terlalu banyak kepala yang harus diatur, dan tidak ada pemimpin, karena masing-masing punya bos sendiri-sendiri. Akhirnya saya stop. Karena membuat situasi di stand TDA jadi tidak kondusif.

Beberapa rekan TDA saya tanya, mereka sudah tidak mengejar retail, tapi lebih ke brosur, harapannya penjualan setelah ini.

Saya mempertimbangkan untuk itu. Tapi kalo pun saya brosur, pengunjung saya arahkan ke mana. Toko offline tidak ada. Toko online, kondisinya masih jauh dari minimal, belum bisa membuat transaksi. Kalo saya mau fokus diluar PRJ, saya harus setup online dulu. Sehingga orang mau beli. Tapi PRJ harus saya tinggalkan 100%, karena saya masih kerja sendiri. Tapi kalo saya tetep di PRJ, diluar PRJ harus saya tinggalkan.

Cari pegawai? Mungkin itu solusi. Tapi saya harus setup produk lebih jelas. Saat ini memang kondisinya banyak hal internal yang harus saya benahi. Terutama soal standar produk dan adminitrasi. Di awal minggu ketika loading naik, saya adminitrasi saya berantakan.
Diskusi sama istri sich, kemungkinan saya akan tahan sampai seminggu ini, terus tutup.
Konsep bisnis yang saya usung adalah ada di level distributor. Jadi targetnya bukan retail. Harga yang saya setup grosir. Dengan minimum belanja 200ribu. Retail itu bonus.
Produk di segmentasi jadi 2.
1. low end dengan harga retail 3ribuan.
2. hi end dengan harga berkisar 8ribu-12ribu. Produk hi end ini keunggulannya adalah produk daerah. Bukan produk Jakarta.

Mohon pendapat rekan-rekan ya....
Mang Yana