Tuesday, July 1, 2008

theSEMUT Berkunjung ke Majalah Paras

Saya nulis ini di studio tempat pengambilan foto di Redaksi Majalah Paras. Lokasi lumayan jauh dari rumah saya. Di Kota Wisata Cibubur.
Ngapain theSEMUT mampir ke Paras? Saya certain dulu ya sejarahnya.

Jadi, toples cantik theSEMUT ini dulunya juga diawali dari Paras. Paras pernah mengadakan pelatihan toples cantik. Dari situ Bunda theSEMUT memproduksi toples cantik. Dengan konsultasi intensif pengajar di pelatihan tersebut. Mba Ade namanya. Support beliau sangat besar untuk kami. Hingga berjalan hampir 1 tahun, produk kami berkembang dan semakin bervariasi.

Awal Juni kemaren, Mba Ade ngasih kontak person Paras. Siapa tahu bisa diliput kata beliau. Setelah kami kontak, mereka langsung datang ke workshop theSEMUT. Mereka lihat-lihat dan pilih-pilih produk kami. Dan OK kata mereka. Kita lakukan pemotretan. Kaget kami. Jadi kami dipilih untuk salah satu isinya. Yang isinya itu step by step untuk membuat sebuah produk. Tangan-tangan Terampil kalo gak salah namanya. Jadilah tadi pagi kami berangkat ke Paras.

Alhamdulillah sesi pemotretan berjalan dengan lancar. Insya Allah akan naek cetak untuk lebaran, 25 September. Udah mepet sich sama Lebaran, tapi gak pa2 lah. Alhamdulillah theSEMUT dapet promosi gratis dan sesuai target marketnya. Mudah-mudahan efek nya bisa cepet kerasa.

Produk yang diliput Paras belum ada di blog. Karena memang Toples Cantik theSEMUT baru lounching produk 2008 nya nanti bulan Juli.


yana

http://mangyana.blogpsot.com

Tadi saya lihat ada Manet nich di Paras terbaru. Kayanya Manet udah jadi pelanggan beberapa majalah / tabloid nasional
Muda-mudahan bisa segera menyusul.

Wednesday, June 11, 2008

Kebenaran

Entah hanya perasaan saya atau memang seperti inilah dunia manusia itu sesungguhnya. Tapi rasanya semakin hari semakin sulit untuk mencari kebenaran di dunia ini. Entah begitu banyak orang yang berbohong atau menipu, atau begitu banyak orang yang berucap atau menulis sesuatu yang padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tadi saya baru saja search profil Anne Ahira. Hasilnya hanya 15.600 pencarian. Saya hanya cek sampai 40. Sulit rasanya menyimpulkan siapa Ahira. Tulisan positif banyak, tapi tulisan negatif pun tidak kalah banyak. Bahkan ada yang sampai ada Anti Ahira atau ada situs anneahirasuck (kasar sekali rasanya, tapi itu memang bagian dari kebebasan (baca:liberal)) Yang negatif bilang tidak ada bukti mengenai semua kehebatan Ahira. Yang positif membicarakan mengenai semua kelebihan Ahira. Tapi saya yakin sangat sedikit atau hampir tidak ada yang menulis semua itu karena dia memang tahu itulah yang sebenarnya (kebenarannya). Karena semua informasi itu di dapat dari orang lain.

Saya jadi teringat mengenai Supersemar. Tercatat dalam sejarah, di ajarkan di sekolah tapi barang buktinya tidak ada. Saksi sendiri ada dua versi.

Belum lagi bulan kemarin saya dapat email dari teman saya. Dia pun mem forward tulisan orang lain. Isinya mengatakan bahwa tanggal 20 Mei itu tidak layak dijadikan Hari Kebangkitan Nasional. Karena sebenarnya Budi Utomo itu tidak nasionalis. Hanya Jawa & Madura. Bahkan memihak Belanda. Saya tidak tahu informasi itu benar atau tidak. Kalaupun yang menulis adalah saksi mata, saya tidak tahu apakah ia benar saksi mata atau seorang pembohong.

Tapi kelihatannya memang seperti inilah dunia manusia. Di kehidupan sehari-hari pun terasa seperti itu. Kadang-kadang ucapan kita hanya berdasarkan kata orang yang kita percaya. Padahal kita tidak mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi karena tidak melihat sendiri.

Pernah dengar ABS. Asal Bapak Senang. Seperti inilah. Karena presiden tidak mungkin memeriksa hingga detail dan teknis dia mempercayakan kepada menteri. Tapi menteri pun tidak bisa. Dia mempercayakan kepada staff nya. Celakanya staff masih memerintahkan bawahannya. Alhasil apa yang sebenarnya terjadi terdistrosi oleh pendapat subjektif dari masing-masing. Apalagi kalo dari bawah sudah berpikir, ”Pokoknya jangan sampai Bapak marah. Bapak harus senang.”

Mau di dunia online ataupun offline, kita harus berhati-hati dalam mempercayai informasi dan mengucap atau menulis sesuatu (kecuali dari awal kita udah bilang : ini hanya fiksi atau rekayasa. Segala yang sama hanya kebetulan semata)

Belajar Internet Marketing

Mulai 3 Juni 2008 kemarin, saya niatkan untuk belajar IM dengan serius. Sebenarnya sudah hampir 2 tahun saya mengenal IM. Sudah 1 tahun saya ikut newsletter Yaro Starak. Sekarang saya lagi belajar dengan Bu Guru Anne Ahira.
Profilnya sudah banyak di ulas. Sebenarnya saya sudah pernah ikut Asian Brain, tapi waktu itu memang iseng aja, alias gak serius. Inya Allah sekarang saya akan serius.
Berikut ini sedikit resume profil Anne Ahira yang saya baca dari berbagai sumber.
Sekarang ini siapa yang tidak mengenal Anne Ahira. Apalagi buat yang sering akses internet atau mencoba cari uang lewat internet.

Ketika pertama kali mendengar Ahira, mungkin yang kebayang adalah sosok orang Jepang. Pantas saja dia terkenal di internet, wong Jepang to. Tapi ternyata tidak, Ahira adalah asli Indonesia, orang Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia bukan anak konglomerat atau berkantor di perusahaan besar dengan gedung-gedung pencakar langit.

Ia mengenal internet ketika sedang kuliah di STBA Bandung. Semua itu diawali karena ia mendengar cerita ada anak 17 tahun bisa mendapatkan ribuan dollar dari internet. Ia belajar secara otodidak, melalui trial and error. Hasil pertamanya selama 2 tahun adalah $8. Dan tidak bisa diuangkan, karena biaya administrasinya $20.

Website pertamanya dibuat adalam waktu 6 bulan. Walaupun hasil masih jauh dari memuaskan, tapi hal itu tidak membuat surut semangatnya. Dan hasilnya bisa anda browsing di Google atau lihat sendiri sekolah di Asian Brain.

Dia adalah salah satu pengarang buku 30 Days To Internet Marketing Success. Buku ini ditulis oleh 60 orang pengarang yang merupakan internet marketer pilihan dari berbagai belahan dunia. Omzet penjualan buku ini mencapai lebih dari 340.000 dollar AS hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan.

Secara rutin Ahira juga membuat newsletter untuk www.TheBestAffiliate.com. Newsletter berisi tips-tips strategi internet marketing ini dibaca oleh 14.000 profesional internet marketing yang tersebar di 120 negara. Dan belum lama ini, Ahira terpilih menjadi “12 World’s Super Affiliate” tahun 2004

ANNE Ahira atau yang akrab dipanggil Ahira/Hira, lahir 28 November 1979. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Hj Aas Asiah dan H Sobur Sodikin. Semua saudaranya perempuan. Motto hidup Ahira: “Kekayaanku yang sejati adalah apa adanya aku, bukan apa yang kumiliki”. Ahira menyelesaikan pendidikan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) di Bandung. Ia lulus dengan predikat cum laude.

Ketertarikan Ahira pada bahasa asing sudah sejak SMA. Berbagai sertifikat diraihnya lewat kursus bahasa asing, seperti bahasa Jerman dan Inggris. Bukan itu saja, belasan sertifikat lainnya dari kursus akuntansi, komputer, menggambar, olahraga, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, ia pun sudah tak ingat lagi, apa saja kursus yang pernah diikutinya.

Ahira sering menyatakan bahwa dirinya orang kampung yang tinggal di Jalan Bojong Sereh, Banjaran, Bandung.
__________________________________________________________________
Tapi waktu saya search profil+anne+ahira ternyata ada juga yang menganggap yang Ahira lakukan dengan Asian Brain adalah arisan marketing atau sejenisnya.

Sunday, May 4, 2008

Krauk Krauk Nambah Konter

Kalo baca judulnya kayanya keren banget. Nyaingin yang jualan ponsel. Jualan cemilan aja sampai punya konter. Modalnya gak sampai 100 rb. Wah, kalo saya bikin promosi, bisa ngantri yang mau joint. Tapi gak, jangan bayangin konter ponsel. Maksudnya konter disini adalah tempat jualan yang lain.

Selama ini saya hanya berjualan di meja saya saja. Sudah berlangsung kurang lebih 6 bulan. Dari setelah Lebaran 2007 kira-kira. Kira-kira 3 minggu yang lalu, saya nawarin ke temen saya yang udah dari tahun 98 jualan di kantor. Awalnya dia minta untuk di 2 tempat. Minggu depannya nambah 1, terus kemaren nambah 1 lagi. Jadi dia buka 4 konter saya 1 konter. Total semua 5 konter.

1 konter isinya kira-kira 60 pcs. Jadi total 300 pcs. Jadi kalo seminggu habis, tiap minggu saya harus menyiapkan 300 pcs. Makanya kemaren saya habis lembur Sabtu Minggu di rumah. Nyiapin untuk minggu ini. Pegel juga ya 300 pcs dalam 2 hari. Tapi kayanya masih sanggup sampai 1000 pcs Insya Allah. Cuma konternya belum ada nich.

Ada yang minat jadi konter (agen) saya berikutnya? Bisa buat yang mau belajar bisnis.

See you at the top

Cemilan 500-an pun Harus Inovasi

aBulan Mei ini adalah bulan ke-7 saya berjualan cemilan di kantor. Naik turun adalah hal yang biasa. Apalagi kalo lagi ada event, orang-orang jarang di kantor, sepi banget. Tapi saya coba terus bertahan. Toh, produk saya ini kadaluarsanya lumayan lama. Antara 3 bulan sampai 1 tahun.
Tidak terasa sudah setengah tahun saya lewati. Dari awalnya hanya 2 jenis, makaroni pedas dan asin, sekarang sudah 5 jenis saya lepas. Makaroni pedas, makaroni rujak (manis pedas), telur ikan, pang pang dan opak. Dan di rumah masih ada 4 jenis yang belum saya lepas. Masih saya tahan untuk waktu yang tepat.
Inovasi. Itulah yang harus saya lakukan. Karena kelihatannya pasar sudah mulai jenuh dengan makaroni. Tadinya saya pikiri untuk kelas saya yang harga jualnya hanya 500 rupiah gak perlu inovasi. Ya... let it go... let it flow saja. Tapi kalo dibiarin bisa mati dagangan saya. Saya masih terus mencari suplier-suplier lain. Saya masih mencari produk-prduk lain.
Mungkin itu sebabnya tiap bulan selalu keluar model hp baru, model baju baru, model kerudung baru.
Inovasi-inovasi baru sedang saya siapkan. Mudah-mudahan bisa bersinergi dengan temen-temen

Tuesday, April 8, 2008

Krauk krauk

Apakah anda penggemar kerupuk? Atau anda pengemar makanan-makanan ringan (cemilan) yang rasanya gurih-gurih kaya dengan bahan penyedap? Kalo iya… berarti Anda punya kesamaan dengan saya.

Dari SD saya suka sekali kerupuk. Kalo jajan sendiri di kantin biasanya saya beli kerupuk yang dikemas kecil. Saya lupa harganya. Dulu itu jaman permen belum jaman permen 25 rupiah. Kayanya permen 25 rupiah 2 buah. Kerupuknya kalo bukan 50 rupiah mungkin 100 rupiah. Uang jajan saya ... kadang ada kadang ngga. Karena memang orang tua saya tidak pernah memberi uang jajan. Kecuali kalo saya minta. Dan saya gak berani minta biasanya. Saya terpaksa berani minta kalo udah ditraktir temen. Kan gak enak kalo besoknya saya masih ditraktir.

Sampai sekarang pun saya masih menjadi penggemar kerupuk. Kalo ada kerupuk di rumah pasti gak akan tahan lama alias langsung habis. Sayangnya saya gak bisa terlalu sering stock kerupuk, soalnya anak saya juga doyan dan kalo kebanyakan jadi batuk.

Saya dari dulu ingin sekali punya usaha cemilan ini, apalagi yang modelnya kerupuk. Punya kios di pasar atau di tempat wisata. Tapi isinya bukan cuma produk buatan kota sendiri, tapi dari kota-kota lain seluruh Indonesia. Di sudut kota lain, punya gudang untuk jualan grosir. Dan tentunya punya cabang di luar negeri sana. Itu mimpi kecilnya...:)

Ternyata sekarang saya jadi juga jualan cemilan kaya gitu. Walaupun masih jauh dari yang saya mimpikan. Mungkin sudah hampir 6 bulan lebih saya berjualan cemilan di kantor.


Awalnya adalah saat kakak saya pulang dari Ciamis, kota kakak ipar saya. Ia membawa beberapa bal (plastik besar) kerupuk makaroni (kerupuk biasa tapi bentuknya makaroni, pasti tahu kan? ) rasa pedas dan asin. Saya terkejut ketika tahu harganya. Kalo di toko mungkin harganya 3 kali lipat. Kakak saya memang beli dari yang buat.

Satu bal saya beli. Di rumah saya kemas kecil-kecil. Lalu saya jual di kantor 500 rupiah. Habis, saya bungkus lagi habis. Begitu terus hingga habis 3 bal. Wah lumayan nich. Marginnya bisa hampir 200%. Soalnya saya gak hitung ongkos orang. Wong yang ngerjain saya sendiri.
Habis, dan kakak saya masih gak ada rencana ke sana. Akhirnya saya cari info di Jakarta dan di Bandung. Dapet saya pedagang grosiran. Wah... ini dia mimpi saya. Dari situ malah saya tambah dengan item yang lain. Supaya gak bosen. Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan. Dan gak pernah rugi. Soalnya kadaluarsanya lama. Minimal tiap bulan omsetnya 200 ribu, kalo lagi laris pernah sampai 500 ribuan. Padahal sehari saya gak perlu kerja sampai 1 jam.


Dari situ saya jadi berpikir. Kalo saya punya 2 tempat, saya bisa dapet omset 400 ribu. Kalo punya 10 tempat bisa dapet omset 2 juta. Padahal saya kerja gak nyampe sepuluh jam sehari. Dan kerjaannya sederhana bisa didelegasikan. Gimana kalo saya punya armada kaya pedangang yang jualan di lampu merah. Jual kacang seribu, kalo mereka jual punya saya seribu mau gak? Dari saya tetep 500 rupiah.

Dari situ saya jadi inget soal armada donat. Makaroni juga pasti bisa seperti itu.
Sekarang saya lagi cari tempat untuk nitip. Ada yang mau gak ya...?

Armada

Kalo dengar kata armada yang tepikir pasti kendaraan. Bus, angkot atau ekspedisi. ”Perusahaan kurir Si Jono punya armada hingga 20 unit”.

Tapi pernah gak lihat orang naik motor dengan membawa barang kotak-kotak hingga lebih besar dari motornya? Ada yang isinya donat, snack (cemilan), baju, sepatu dll. Buat yang tinggal di Jakarta pasti hal itu tidaklah asing.

Dulu saat saya jualan donat saya pernah menyaksikan hal yang luar biasa ini. Saya ambil donat dari produsen di daerah Kupar, belakang Kawasan Industri Pulo Gadung, dekat pabrik motor Yamaha. Tempatnya masuk gang. Memang hanya motor yang bisa lewat.

Saya biasanya ke sana 2-3 hari sekali. Karena memang donatnya hanya tahan 3 hari. Artinya hari ke 3 udah gak enak. Saya sich cumah ambil 2-3 kotak. Saya biasanya ambil setelah pulang kerja. Paginya saya jual di kantor. Lumayan. Karena kantor saya di Tipar Cakung jarang ada penjual.

Saat saya mengambil donut, saya melihat mereka yang juga mengambil donut. Hingga puluhan kotak. Ya itu tadi, yang naik motor tapi gak kelihatan orangnya karena ketutup donat. Luar biasa. Donut tidak berhenti digoreng, adonan tidak berhenti dibuat, dan motor tidak berhenti datang mengambil donutnya. Harganya kalo tidak salah 500 untuk semua kecuali keju 600.

Wah, luar biasa armadanya. Dan yang lebih luar biasa, semua armada tersebut adalah konsumen (bukan karyawan) produsen tadi. Mereka semua bayar cash.